Berserah Diri

Posted: 15/12/2010 in Sosial

Adakalanya ditengah tuntutan, rutinitas pekerjaan atau kehidupan kita menemui masalah atau kendala. Di kala keadaan ” kalut”  kita sering berujar untuk diri kita untuk  berserah diri. Bang Soepra tertarik dengan sebuah artikel di laman www.pengembangandiri.com yang di tulis oleh Al Falaq Arsendatama tentang berserah diri,  judulnya ” Berserah Diri : Sains atau Cuma Sekedar Dogma?”. Sengaja saya copykan di artikel ini agar menjadi renungan yang bisa menjadi nilai tambah bagi kita semua.

Diam Sejenak untuk Menerima Inspirasi

Berserah diri seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Tapi seringkali kita menerima pencerahan saat kita tidak berpikir.

Saat dihadapkan pada masalah biasanya kita berusaha sekuat tenaga mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Apa yang terjadi? Seringnya kita justru tidak bisa melupakan masalah dan tenggelam pada ketidakberdayaan. Ada teman yang bilang: “Kemana pun saya pergi, masalah selalu mengikuti saya”

Albert Einstein pernah mengatakan, “Kita tidak bisa memecahkan masalah menggunakan pola pikir lama yang menciptakan masalah itu” Artinya kita ingin berhenti berpikir dan diam sesaat untuk “melupakan” masalah. Lantas kita mengizinkan diri kita untuk melihat permasalahan ini dari paradigma yang baru.

Dalam ajaran agama kita mengenal berserah diri atau ikhlas. Saat dihadapkan pada tantangan hidup rasanya banyak dari kita yang kesulitan menerapkan ikhlas ini. Ada yang bilang, “Ya sudah…ikhlaskan saja” Tapi apa benar Anda betul-betul ikhlas? Apa justru memendam kekesalan yang dikemudian hari bisa meledak?

Menurut sains fisika kuantum, isi alam semesta ini 99,9999% kosong. Hanya 0,0001% benda, termasuk manusia, bumi, planet, galaksi, dll. Para ilmuwan menemukan bahwa ruang kosong ini sebetulnya tidaklah kosong, namun mengandung potensi yang tak terhingga. Potensi ini yang kemudian menjadi manifestasi dalam bentuk materi dan keadaan, termasuk manusia dan kehidupannya.

Saat Anda cemas karena dihadapkan pada sebuah masalah. Berserah diri merupakan tindakan bijaksana untuk melepaskan kemelakatan dan mengakses potensi 99,9999% yang ada di alam semesta ini. Caranya dengan diam sejenak dan menghilangkan semua pikiran Anda tentang masalah itu. Ajukan pertanyaan pada diri Anda, “Apa rasanya seandainya saya tidak punya masalah?” Jangan dipikirkan jawabannya. Rasakan dan alihkan perhatian Anda ke pusat hati.

Di pusat hati ini Anda rasakan bagaimana hidup Anda tanpa masalah. Lantas barangkali hati Anda berbicara. Atau Anda merasakan sesuatu. Serahkan apapun yang muncul pada Yang Maha Kuasa yang bekerja melalui potensi kuantum. Seringkali Anda menemukan jawaban atas permasalahan yang Anda hadapi. Moment of englightenment, kata orang.

sumber www.pengembangandiri.com

 

Lobi – Lobi My Fav…

Posted: 05/12/2010 in Sosial

Beberapa waktu lalu Bang Soepra berkesempatan mencicipi kembali  buah unik dari masa kecilnya di Bangka Belitong, disebuah tempat kuliner ( sebut saja Restoran ” KTN”). Yang specialnya, buah yang dimaksud disajikan bersama es serut, mantaaaaaaaaps…………..!?

Adalah  Lobi – Lobi, istilah Latinnya  (Flacourtia inermis).

Buah ini rasanya manis asem, terkadang lebih ke sepat (masam), jika telah matang buah ini bisa berubah warna dari hijau menjadi berwarna merah keungu – unguan, ataupun ungu gelap. Buah ini berenteng seperti anggur (walaupun rasanya jauh dari anggur..hehehe..).Dulu Bang Soepra sering makan buah ini, baik dengan membeli ataupun minta ketetangga ,yang kebetulan punya pohonnya( Bu Mardjan…siempunya Pohon…hehehehe  lumayan irit buat Bang Soepra kalau dengan cara ini), bermodal ijin sang empunya jadinya Bang Soepra bertengger di atas Pohon Lobi – Lobi..( sekali lagi itu duluuu…banget…Bang Soepra masih punya ” peringan tubuh” jadi lihai memanjat…hehehehe…).Buah ini cukup bikin repot, di pakaian bisa  membekas jika kelewat semangat makannya lantas jatuh di pakaian.Buah ini seingat Bang Soepra memiliki musim, sayangnya apakah sepanjang musim kering atau hujan..sudah terlupakan.

“Penemuan ” Es Lobi – Lobi ini cukup berarti Bang Soepra…mengingat banyak cerita membekas. Semoga Buah ini tetap awet, agar generasi selanjutnya  masih bisa menikmati “merem – melek” makan buah ini.

Sumber: Wikipedia,dll

“Komentku…. Komentmu”

Posted: 28/11/2010 in Sosial

Tergelitik membaca kejadian “aneh” di status Facebook milik teman beberapa hari lalu, Bang Soepra tertarik untuk browsing di mbah google tentang  “dunia komentar Facebook ”,… Yah disamping  Bang Soepra juga punya pengalaman demikian  harus repot – repot  me’ remove’ seorang teman akibat tabiat ”koment” nya yang  ”aneh bin ajaib” menyasar di status Facebook Bang Soepra

Ya…Bang Soepra berpendapat ada baiknya kita kita yang sering “wira wiri” di dunia Facebook ini ( rumornya cuma sampe 5 tahun lagi…) perlu memperhatikan “tatib” dalam berkomentar….karena bukan hal aneh jika sekarang timbul pertikaian yang tidak jelas akibat status atau komentar yang “tidak bertanggung jawab” atau sifatnya  ” just for fun”…hehehhehe…

  1.  Korelasi komentar dengan isi postingan/ status. Usahakan agar komentar kita buat punya hubungan dengan isi postingan/status. Berkomentar di luar konteks, serius atau tidak, setidaknya menunjukkan jati diri kita sebagai empunya komentar. 
  2. Membubuhkan komentar dengan baik untuk memperkaya isi tulisan, menambahkan sudut pandang, memberikan pujian, atau justru ketika memberikan kritikan. jika komentar tersebut memuat kritik, tidak membuat yang empunya status merasa tersinggung. Jika ia memuat tambahan pendapat, tidak terkesan mengajari atau mendikte. Jika memuat pujian, maka pujian itu pun akan terkesan lebih elegan. Begitu seterusnya.
  3. Berkomentar sesuai dengan tipikal tulisan status yang dikomentari. Tidak semua status harus dikomentari dengan serius dan panjang lebar. Beberapa status justru harus dikomentari dengan cara yang ringan, segar, dan lucu. Demikian pula sebaliknya, tidak semua status bisa kita jadikan bahan lelucon walopun kita tau orang yang menulis status teman baik yang senang becanda. Tapi kita tidak tau kan apa yang sedang dirasakannya terkait dengan statusnya?
  4. Berkomentar dengan bahasa yang santun. Sekeras apapun kita ingin mengritik, atau semarah apapun kita oleh sebuah tulisan, kita mesti tetap menggunakan bahasa yang santun dalam berkomentar. Hindari penggunaan kata-kata semisal bodoh, tolol, dan lain sebagainya. Bahkan dalam penulisan HURUF BESAR & BOLD pun  harus hati-hati karena itu menandakan nada keras dari sipenulis. Ini adalah etika yang harus dipegang. Jika tidak demikian, maka dunia internet ini akan menjadi rimba belantara yang tak terkontrol oleh tata krama. Bak kata pepatah, “bahasa itu menunjukkan tinggi atau rendahnya budi orang yang memakainya”.

Nah..semoga menjadi acuan bagi saya, dan kita semua

Tulisan ini bersumber pada beberapa link yang saya sebut dibawah. Mohon maaf bukan bermaksud “tidak punya ide dalam menulis” namun bila ada kebaikan yang terpancar dalam suatu tulisan yang kita baca, bukankah baik pula bila kita sebarkan pada rekan-rekan yang belum tau? Mudah-mudahan bisa bermanfaat yah … 

Sumber:DetikInet.com

Nemu Khuwuk…

Posted: 21/11/2010 in Sosial

” Nemu Khuwuk ” kata – kata yg  baru diperoleh Bang Soepra dari sang istri tercinta…(yg Javanese-nya 100 % ) Mbakyu Denok.Bang Soepra takjub ada istilah jawa yg “update” dengan keadaan kekinian.

Ya  ” Nemu Khuwuk ” sendiri kalau di-Indonesia-kan memang susah mencari padanan kata atau artinya.Mungkin lebih tepatnya kalau di- analogi-kan seperti begini: Seseorang yg hendak pergi ke suatu tujuan karena suatu urusan tapi lantas kebetulan bertemu seorang teman,lantas jadi menanyakan perihal urusan dirinya dgn temannya tsb, atas dasar alasan ”sembari/kebetulan” bertemu…atau

Contoh lainnya ; seseorang yang mengantarkan undangan ketemannya di perjalanan bertemu teman yang lain, lantas mengundang temannya tersebut walaupun cuma lewat kata -kata. 

Jadi ini istilah atas perbuatan spontan,akan tetapi kurang membuat nyaman, karena mafhumnya apa – apa yang ditambahkan kemudian lebih sebagai pelengkap, bukan utama, atau yang “sembari” itu lebih ke sekunder bukan ‘primer’. 

Ya..begitulah “Nemu Khuwuk” istilah yang diciptakan nenek moyang kita, sebagai bentuk bagian dari pembelajaran  beretika dlm kehidupan sosial kita.Bang Soepra istilah ini juga di kebudayaan lain, cuma kita sendiri belum mengetahuinya.

BICARA DGN MATA…..

Posted: 15/07/2010 in Sosial

Seorang teman mendadak mengeluhkan betapa dirinya merasa begitu diacuhkan ketika bertemu dengan teman kerjanya yang lain dan terlibat dalam pembicaraan, tetapi sang teman itu tetap saja menatap layar monitor jinjing-nya sembari menimpali setiap percakapan diantara mereka tanpa sekalipun melihat ke arahnya sebagai lawan bicara…(nih teman memang rada sensistif..he3x…)

Lain lagi yang dialami dgn Bang Soepra sendiri, suatu ketika jam – jam injury time kantor Bang Soepra ditelpon bozz, karna terbawa suasana pulang, Bang Soepra menjelaskan perihal yang ditanyakan bozznya dipembicaraan telpon itu  dengan nada -  nada singkat padat, cepat bak sms…sang bozznya pun komplain, jadilah kuping Bang Soepra pun merah karena dikomplain…

. Ada cerita menarik lain  yang pernah didengar Bang Soepra lagi – lagi dari seorang  teman, dia begitu kesalnya menerima SMS dari temannya yang selalu membubuhkan tanda seru di tiap SMS yang dia kirimkan. Selidik punya selidik ternyata ketika mereka berkesempatan kupi darat…sang teman menjelaskan maksudnya tanda pentung itu di bubuhkannya  sebagai cara mengekspresikan kegembiraan atau  betapa pentingnya itu berita di sms itu (dies..!!) haaahhahaha…

Ya…ternyata sering kali kita tidak menyadari pola perilaku komunikasi kita belum tentu baik sempurna, siapa pun kita , baik yang ber-educate  atau tidak he3… ada idiom “ baik buat kita belum tentu baik buat orang lain.” Memang seringkali faktor yang kesibukan pekerjaan yang menuntut konsentrasi kita, menjadikan  pembenaran bagi kita untuk mengabaikan sekeliling kita alias seperti “ yang lain ngontrak jadi kudu ngarti keadaan “

Dari cerita – cerita di atas, paling tidak yang Bang Soepra peroleh, antara lain:

  1. Tatap mata lawan bicara anda, agar lawan bicara anda merasa hadir dihadapan anda.Anda merasa berharga maka hargai orang lain juga.
  2. Sesibuk apapun anda, paling tidak berhentilah sejenak untuk mendengar pembicaraan lawan bicara anda.Semakin kita  “gemar” ingin didengarkan, maka tentu lumrah saja jika orang lain demikian halnya.
  3. Sesibuk apapun, seterburu – buru apapun anda, berbicara dengan perlahan dan intonasi yang baik karna dengan itu justru mempermudah pembicaraan yang berlangsung menemukan titik temunya.
  4. Komunikasi dalam bentuk apapun SMS, Fb, Twitter , paling tidak kita harus memperhatikan EYD yang baku dan umum, kecuali kita ABG kemarin sore…tentu harap maklum…

Okelaah…kalo begitu…Bang Soepra menyimpulkan, dan berusaha menjadi mengamalkan hal yang tersebut diatas…smogaa……berhasil.

Bang Soepra hari ini  sambil nge-cek email, iseng manfaatin fitur chat di emailnya, yang kebetulan rekan lamanya online.

Awalnya maksud hati Bang Soepra menyapa karena sudah lama tidak berkomunikasi langsung…justru akhir jadi silat chat yang panjaang..plus durasi spasi yang lebiiih…

Rekan lama ini ternyata tidak sreg…sama masukan dari Bang Soepra tentang kehidupan pribadinya…menurutnya lebih pada penjatuhan citra, penghinaan terbuka, intimidasi tidak berdasar dan intervensi urusan dalam pribadinya serta istilah – istilah  yang sedikitpun tidak terlintas dibenak Bang Soepra ketika mengutarakannya…ataau Bang Soepra memang mungkin terlalu ” terang benderang” menurutnya kekkekekke….

Bang Soepra jadi geleng – geleng apa ini ekses dari pemberitaan politikus yang gencar di media sekarang, mereka bisa saling tuding, curiga, mengira lawan/kawannya ada move- move bak udang di balik bakwan….korelasinya bagi kita para permisa budiman Termasuk rekan Bang Soepra jadi hanyut ikut berpikir ala para politikus begitu…alias copy paste..copy cat ato apapun istilahnya tsb…

Akhirnya Bang Soepra teuteup semangat untuk mengklarifikasi pada rekannya..atau sebenarnya takut mendadak di somasi dan dituntut pencemaran nama baik..hee…hee…

Bang Soepra cuma yakin ujar -ujar ” Seribu Kawan Terlalu Sedikit Satu Musuh Terlalu Banyak”…jadi to be continued….

Bang Soepra ; belajar Kemacetan

Posted: 10/05/2010 in Tak Berkategori

Mulai saat ini saya memposting sedikit berbeda, sedikit bercerita, ada karakter yang saya sengaja ciptakan sebagai ganti saya sendiri yaitu Bang Soepra dan Istri tercinta Mbak Yu Dhenok…nantinya akan muncul karakter lain sesuai setting tulisan yang saya postkan…semoga lancaar…

Apa? Apa yang bisa dipelajari dari kemacetan? Ya, kita sering tidak tahu bahwa dibalik kemacetan yang hampir kita semua alami tiap hari (pen ; di ibu kota) , sesungguhnya banyak hal yang bisa kita pelajari ..bukan cuma polusi yang bereffect gombal warming...eh global warming…istilah yang lagi tren sekarang..he3x..

Bang Soepra yang berangkat bekerja bersama Istri tercinta Mbak Yu Dhenok (bolehlah disebut bikers walaupun jarak tempuh yang ngga seberapa…cuma 20 menit sampai di tempat kerja itu pun kalo ngga ” kesiangan” he3x…) sering plus rutin ngalami kemacetan.  Ditengah kemacetan Bang Soepra jadi ngeh betapa beragamnya karakter bikers ; ada bikers dengan style semi akrobatik, meliuk – liukkan sepeda motornya ditengah kemacetan mencari setiap kesempatan/ celah yang terbuka, yang dilalah aksi supernya ini tidak “tepo – tepo” sama yang lain di kiri dan kanan.

Ada pula bikers yang model “bondo nekad”, potong kompas menjadikan  trotoar sebagai alternatif untuk  menjadi yang “selalu terdepan”.

Atau yang iseng  menyalurkan mbakat memprovokasi  suasana agar  hangat dengan rentetan klakson yang berulang – ulang ngga kalah banyak. Nah Bang Soepra membanggakan diri  termasuk kategori yang semi adem ayem plus coba – coba mencari celah, yang begitu kosong bolehlah nyalip dikit …he3

Bang Soepra kalo sudah begini mendadak jadi seorang filsuf,  walaupun ngga sekelas aristoteles atau plato.. ” Ternyata ngga perlu teater buat pementasan  karakter orang – orang , cukup dilalu lintas yang macet di jalanan” ujarnya dalam hati.

Ya…begitulah manusia, hasil/tujuan akhir terkadang melupakan proses.Instan= sukses rumusan yang seringkali jadi nomor wahid, semua cara boleh asal outputnya ada. Benar atau salah…relatif?

Bang Soepra cuma “mantuk – mantuk” serta bersyukur Istrinya Mbak Yu Dhenok ( sing ayu dheewe sa’ dunyo..) masih nrimo perjalanannya macet dan tidak bisa ekspress …karena motornya pun ngga kuat untuk digeber kenceng.

dan berharap smoga dirinya tetap keukeh untuk belajar lebih baik dan menghargai proses dan orang lain..